Ada capek yang tidak perlu disesali.
Bukan karena salah langkah, tapi karena terlalu lama berdiri tegak.
Capek yang datang bukan untuk melemahkan, melainkan mengingatkan bahwa kita masih berjalan.
Saya belakangan sering merasakannya. Bukan capek yang membuat ingin berhenti, tapi capek yang membuat ingin diam sebentar. Menarik napas lebih panjang, lalu memastikan kembali arah yang sedang ditempuh.
Di jalan ini, tidak semua hal terasa ringan. Ada duka yang harus disambut, ada amanah yang harus dijaga, ada orang-orang yang perlu dikuatkan meski diri sendiri sedang lelah. Kadang peran datang bertubi-tubi, tanpa sempat bertanya apakah hati sedang siap atau tidak.
Namun anehnya, capek ini berbeda.
Tidak membuat hati sempit.
Tidak melahirkan penyesalan.
Karena di dalamnya ada rasa yakin.
Saya belajar bahwa capek di jalan yang benar tidak pernah sia-sia. Ia tidak berisik, tidak menuntut pengakuan. Ia hanya meminta satu hal: kejujuran untuk mengakui batas, dan kerendahan hati untuk bersandar sejenak.
Di titik ini, saya semakin paham bahwa kuat bukan berarti tidak lelah. Kuat adalah tetap menjaga niat ketika lelah datang. Tetap memilih jujur saat jalan terasa sepi. Tetap melangkah meski tidak semua orang mengerti.
Ada hari-hari ketika hasil tidak langsung terlihat. Ketika usaha belum bertepuk tangan. Ketika doa masih menunggu waktu. Dan di sanalah capek sering menguji: apakah kita berjalan untuk dilihat, atau untuk sampai.
Saya tidak selalu punya jawaban.
Tidak selalu punya tenaga berlebih.
Tapi sejauh ini, saya masih ingin setia pada arah yang sama.
Jika suatu saat capek ini datang lagi, semoga saya tidak buru-buru mengeluh. Cukup mengingatkan diri sendiri: mungkin bukan jalannya yang salah, tapi memang begini rasanya berjalan dengan benar.
Dan jika harus berhenti sejenak, semoga bukan untuk menyerah. Hanya untuk memastikan bahwa hati masih lurus, dan langkah masih menuju.
Leave a Reply