Pagi itu jalan raya terasa berbeda.
Biasanya padat, hari itu justru lengang. Hujan turun ringan, membuat suasana semakin tenang. Saya sempat menyesal kecil karena tidak membawa mobil. Terlalu terbiasa membayangkan kemacetan, sampai tidak siap ketika jalan tiba-tiba lapang.
Kadang kita memang terlalu sering mengasumsikan hidup itu sulit.
Begitu ia terasa mudah, kita justru heran.
Puasa pertama dimulai dengan sahur yang sederhana dan pagi yang penuh tanggung jawab. Sebelum fajar benar-benar pergi, beberapa pekerjaan sudah dituntaskan. Ada satu komplain di media sosial yang perlu diredam dengan cepat. Nada yang awalnya panas berhasil diluruskan dengan komunikasi yang jernih.
Menjelang siang, saya melakukan kontrol kesehatan rutin. Datang lebih siap, antrean tidak panjang, semua terasa lebih tertata. Namun tetap saja, sistem punya cara menguji kesabaran.
Tiba-tiba diminta mengambil hasil laboratorium secara manual karena jaringan bermasalah. Setelah menunggu dan hasil cetak keluar, sistem online justru kembali normal. Seolah ingin membuktikan bahwa secanggih apa pun sistem dibuat, celah itu tetap ada.
Hasilnya? Stabil.
Padahal dua hari sebelumnya sempat “cheating” dengan makan buah yang dilarang.
Ternyata perjuangan beberapa bulan lebih kuat dari satu sesi durian.
Saya tertawa kecil dalam hati.
Di kantor, hari pertama puasa berjalan lebih tenang. Musik penyemangat diputar pelan. Target tilawah tetap dilanjutkan. Operasional berjalan tanpa drama berarti. Data prospek dan perencanaan tersusun rapi.
Ramadhan tidak selalu harus penuh agenda besar.
Kadang yang paling bermakna justru hari yang berjalan biasa saja.
Namun klimaks hari itu bukan di kantor.
Di satu titik, rujukan kesehatan dinyatakan habis. Fasilitas pertama memberi jawaban berbeda dengan fasilitas lanjutan. Dua sistem seperti saling bertolak belakang. Permukaan terlihat simpang siur.
Rasa penasaran muncul.
Saya kembali dengan energi yang sedikit lebih tegas. Bukan untuk marah, tapi untuk memahami. Setelah ditelusuri, ada tekanan untuk membatasi rujukan. Ada kebijakan yang tidak diucapkan terang-terangan. Di atas kertas terlihat membingungkan, tapi di baliknya ada pertimbangan lain yang tidak semua orang tahu.
Banyak hal memang tampak kacau di permukaan.
Tapi jika ditelusuri, sering kali ada benang merah yang tidak selalu boleh diungkapkan.
Mungkin bukan semua orang ingin tahu.
Tapi saya selalu penasaran mengapa.
Menjelang magrib, tubuh mulai terasa lelah. Buka puasa pertama dilakukan bersama keluarga. Sederhana, hangat. Beberapa pesan masuk: ada yang meminta semangat, ada yang membutuhkan bantuan.
Hari itu panjang.
Jawaban sempat berputar-putar.
Sistem tidak selalu lurus.
Tapi hati tetap terasa penuh.
Hari pertama puasa mengajarkan saya satu hal:
jalan boleh lancar, sistem boleh berputar,
tapi selama niat lurus dan langkah terus dijaga,
lelah akan selalu terasa nikmat.
Dan mungkin, di situlah maknanya
membaca sistem tanpa kehilangan kesabaran.

Leave a Reply