Saya pernah melihat seseorang yang mampu memasak hidangan kelas internasional.
Detailnya rapi. Rasanya seimbang. Penyajiannya presisi.
Tapi ketika kembali ke dapur sendiri, ia memilih merebus Indomie.
Awalnya saya tidak terlalu memikirkan itu. Sampai saya menyadari pola yang sama muncul dalam banyak hal.
Ada orang yang ketika diberi panggung besar, tampil luar biasa. Konsep jelas, ekspektasi tinggi, audiens luas hasilnya maksimal. Ketika bekerja dengan jaringan luar, profesionalitasnya tidak diragukan. Ketika berkolaborasi dengan figur publik, persiapannya matang.
Namun saat bekerja bersama tim internal, performanya turun. Standarnya berubah. Yang dikejar bukan lagi kualitas, melainkan selesai.
Bakatnya bukan masalah.
Kemampuannya bukan masalah.
Masalahnya ada pada pilihan.
Saya melihat ini juga dalam urusan pekerjaan sehari-hari. Ketika sudah ada rencana yang jelas, hasilnya kuat dan terarah. Tapi ketika konsep dianggap terlalu “kaku” atau “monoton”, muncul keinginan untuk membuat sesuatu yang lebih fresh.
Sayangnya, yang disebut fresh sering kali hanya menjadi biasa saja. Target checklist lebih penting daripada kedalaman. Yang penting upload. Yang penting ada. Soal kualitas, nanti saja.
Tidak semua yang terlihat fresh itu bertumbuh.
Kadang itu hanya bentuk lain dari menghindari kedalaman.
Di balik itu, saya melihat satu akar yang lebih halus: overthinking. Terlalu banyak memikirkan konsep, terlalu sedikit menjaga kualitas eksekusi. Takut repot dengan koordinasi internal. Merasa lebih mudah bekerja ketika standar datang dari luar.
Padahal justru di situlah profesionalitas diuji ketika bekerja tanpa sorotan besar, tanpa nama besar, tanpa tekanan eksternal.
Saya teringat pada sepak bola. Ada pemain yang tampil gemilang di satu pertandingan besar, lalu menghilang di pertandingan berikutnya. Bukan karena ia tidak bisa, tapi karena mental bertandingnya tidak konsisten.
Kemampuan tinggi tidak otomatis melahirkan konsistensi.
Di pikiran saya, metaforanya sederhana. Ia sudah terbiasa memasak hidangan penuh gizi. Tahu cara mengolah bahan terbaik. Tahu teknik yang tepat. Tapi ia memilih merebus Indomie karena lebih cepat dan mudah.
Indomie bukan salah. Ia praktis dan mengenyangkan.
Tapi jika setiap hari memilih yang instan, bukan karena tidak mampu memasak yang lebih baik, melainkan karena tidak mau repot, maka yang berkurang bukan rasa kenyang melainkan kualitas diri.
Di titik ini, saya tidak merasa perlu marah. Tidak juga ingin buru-buru mengganti orang. Kadang tugas pemimpin bukan mencari orang baru, tapi mengingatkan seseorang bahwa ia mampu lebih dari yang ia pilih hari ini.
Bahwa standar tinggi tidak hanya untuk panggung besar.
Bahwa kualitas bukan untuk ditunjukkan ke luar saja.
Bahwa dapur sendiri pun layak mendapatkan masakan terbaik.
Dan kalau refleksi ini diperluas, sebenarnya bukan tentang siapa pun.
Setiap hari kita dihadapkan pada dua pilihan:
memasak yang terbaik dari kemampuan kita,
atau sekadar merebus yang instan.
Dalam kerja.
Dalam ibadah.
Dalam relasi.
Dalam hidup.
Pertanyaannya sederhana, tapi tidak selalu nyaman:
apakah kita benar-benar tidak mampu,
atau hanya tidak mau repot?

Leave a Reply