Ada masa ketika saya merasa tubuh ini bukan lagi sahabat.
Berat badan berlebih, perut membuncit, stamina menurun, dan penyakit datang silih berganti. Bahkan untuk mengejar bola pun terasa berat. Bukan hanya fisik yang lelah, tapi juga batin karena diam-diam muncul kesadaran bahwa ada yang perlu diperbaiki.
Dari titik itulah tekad itu muncul. Bukan tekad besar yang meledak-ledak, tapi keputusan sunyi: cukup, saya tidak ingin hidup seperti ini terus-menerus.
Perubahan tidak langsung datang dalam bentuk yang rumit. Saya memulainya dari hal paling ringan yang bisa dijalani dengan jujur. Mengatur waktu makan, memberi jeda bagi tubuh untuk beristirahat, dan perlahan belajar menahan diri. Tidak ada larangan keras, hanya kesepakatan dengan diri sendiri untuk lebih peduli. Sedikit demi sedikit, durasi ditambah. Bukan karena ingin cepat, tapi karena tubuh mulai mampu.
Di fase itu saya belajar satu hal penting: disiplin tidak lahir dari paksaan, tapi dari kesadaran. Ketika tubuh mulai terasa lebih ringan, ketika napas lebih panjang, dan ketika rasa sakit perlahan menjauh, di situlah kepercayaan tumbuh. Bahwa pengorbanan kecil yang konsisten ternyata membawa hasil yang nyata.
Waktu berjalan. Perubahan mulai terlihat, bukan hanya di timbangan, tapi di cermin dan di rasa percaya diri. Perut yang dulu membuncit mulai mengecil. Tubuh terasa lebih bersih, lebih siap diajak bergerak. Empat bulan menjalani proses ini memberi pelajaran besar: yang paling sulit bukan memulai, tapi bertahan.
Di titik itulah muncul pertanyaan baru. Jika ini dijalani dalam jangka panjang, apakah saya mampu? Apakah tubuh ini akan tetap kuat? Saya sadar, perjuangan tidak bisa hanya mengandalkan kemauan. Ia butuh pengetahuan, arahan, dan kerendahan hati untuk belajar dari yang lebih paham.
Akhirnya, saya memberanikan diri naik satu tingkat. Berkonsultasi dengan ahlinya, bukan untuk mencari jalan pintas, tapi untuk memastikan bahwa perjuangan ini tetap sehat, seimbang, dan berkelanjutan. Bukan lagi sekadar menurunkan berat badan, tapi menjaga amanah tubuh yang telah lama saya abaikan.
Dari perjalanan ini, saya semakin yakin: setiap perubahan selalu meminta harga. Ada rasa lapar yang harus ditahan. Ada kebiasaan lama yang harus dilepas. Ada kenyamanan yang harus dikorbankan. Tapi di balik semua itu, ada hadiah yang tidak ternilai rasa hormat pada diri sendiri.
Perjuangan memang tidak pernah jauh dari pengorbanan.
Namun pengorbanan yang dijalani dengan sadar tidak pernah sia-sia.
Ia pelan-pelan membentuk kita menjadi versi yang lebih kuat, lebih jujur, dan lebih bertanggung jawab terhadap hidup yang dipercayakan.
Leave a Reply