Plot Twist di Balik Penetapan 1 Ramadhan

Menjelang penetapan awal Ramadhan, suasana selalu terasa berbeda.


Grup-grup percakapan mulai ramai.
Sebagian berharap dimulai lebih cepat.
Sebagian lagi menunggu keputusan resmi.
Ada yang sudah siap sahur, ada yang masih berspekulasi.


Setiap tahun, diskusinya hampir sama.
Seolah ada dua kubu kecil yang saling menunggu siapa yang lebih dulu benar.


Saya membaca saja.
Tidak ikut berdebat.
Tidak menyuarakan harapan apa pun.


Bukan karena tidak peduli.
Hanya saja, kali ini ada hal lain yang diam-diam saya pikirkan.


Besok saya punya jadwal cek gula darah.
Harus puasa beberapa jam sebelumnya.
Lalu dua jam setelah makan, dicek lagi.


Jadwal yang sudah ditentukan jauh hari.
Teknis. Biasa saja.


Dan di tengah ramai orang menunggu pengumuman, saya justru berharap satu hal sederhana: semoga tidak bentrok.


Kalau awal Ramadhan jatuh tepat di hari itu, saya harus memilih. Menjalankan prosedur medis sesuai jadwal, atau menyesuaikan ulang semuanya. Tidak ada drama besar. Hanya sedikit penyesuaian yang mungkin terlihat sepele bagi orang lain.


Di situ saya tersenyum sendiri.


Ternyata saya tidak sedang berharap menang.
Saya hanya berharap tidak berbenturan.


Dan dari situ muncul kesadaran kecil.


Tubuh juga amanah.
Ia bukan alat yang bisa dipaksa terus-menerus tanpa diperhatikan.
Ibadah pun bukan tentang memaksakan diri sampai melupakan hikmah.


Kadang ketenangan justru datang dari hal-hal yang sangat teknis.
Dari jadwal kecil yang berjalan sesuai rencana.
Dari keputusan sederhana yang tidak perlu diperdebatkan.


Ramadhan tetap akan datang.
Dengan atau tanpa suara kita.


Dan mungkin, kebahagiaan itu bukan selalu tentang keputusan besar yang diumumkan.
Tapi tentang jadwal kecil yang tidak saling berbenturan.


Di balik isu publik yang ramai,
ada urusan pribadi yang diam-diam lebih berarti.


Dan saya memilih menjaganya dengan tenang.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *