Ramadhan Datang, Yuk Maksimalkan

Siang terakhir sebelum tiga puluh hari yang berbeda terasa sedikit lebih ramai dari biasanya. Tempat makan penuh. Orang-orang memesan lebih banyak dari biasanya. Seolah siang itu adalah kesempatan terakhir untuk menikmati kebebasan yang akan jeda sebulan lamanya.

Ada yang menikmatinya dengan tergesa.
Ada yang menikmatinya dengan rasa syukur.

Saya melihatnya sebagai pengingat. Bahwa yang akan berubah bukan hanya jadwal makan, tapi ritme hidup. Dari siang yang riuh menuju siang yang lebih hening. Dari kebiasaan yang bebas menuju disiplin yang lebih sadar.

Di kantor, dinamika tetap berjalan. Ada tim yang hampir menyerah karena satu persoalan yang terasa buntu. Ada transaksi yang belum tercatat rapi. Ada kebingungan yang sempat membuat energi menurun.

Namun sering kali, masalah bukan tidak ada jalan keluar.
Hanya belum ditanyakan kepada orang yang tepat.

Sebuah komunikasi dilakukan. Diskusi singkat. Dan ternyata solusi itu ada. Tidak rumit. Hanya butuh sudut pandang yang berbeda.

Di situ saya kembali diingatkan, kepemimpinan bukan tentang tahu segalanya. Tapi tahu harus menghubungi siapa ketika tidak tahu.

Menjelang Ramadhan, yang ingin dijaga bukan hanya pekerjaan selesai. Tapi juga suasana hati orang-orang di sekitar. Ada yang dipulangkan lebih awal agar bisa bersiap. Ada yang diperhatikan kebutuhan sahur dan berbukanya. Ada yang diberi dukungan penuh untuk memastikan agenda ibadah berjalan dengan baik.

Ramadhan bukan hanya tentang memperbaiki diri.
Tapi memastikan orang-orang di sekitar kita juga bisa menjalaninya dengan tenang.

Malam pertama tiba. Setelah magrib, lembar demi lembar mulai dibaca. Tidak banyak, tapi cukup untuk memulai. Sambutan disampaikan dengan sederhana: mari maksimalkan bulan ini. Ada permohonan maaf yang tulus, seolah mengingatkan bahwa Ramadhan selalu membawa kesempatan kedua.

Saya pun memasang target pribadi.
Tiga kali khatam.

Yang pertama, saya niatkan untuk ibu tercinta.
Yang kedua, untuk ayah.
Dan yang ketiga, untuk diri saya sendiri.

Tidak semua orang harus punya target yang sama.
Tidak semua harus tiga kali.

Tapi setiap Ramadhan layak diperjuangkan.

Karena ia tidak datang selamanya.


Dan ketika malam itu saya duduk sejenak sebelum tarawih, ada satu rasa yang pelan-pelan tumbuh. Urusan utama sudah ditata. Tim lebih tenang. Masjid bersiap. Ritme mulai berubah.


Hati pun ikut menyesuaikan.


Ramadhan tidak selalu datang dengan gemuruh.
Kadang ia datang ketika semua sudah ditata pelan-pelan.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *