Ramadhan biasanya datang dengan energi yang tersedot ke banyak agenda besar. Agenda yang penuh warna, penuh strategi, penuh perhitungan. Banyak tenaga komunitas habis di sana.
Tahun ini tidak ada kontestasi besar.
Tidak ada pertarungan politik.
Ada ruang kosong.
Awalnya saya pikir ruang itu akan membuat semuanya lebih sepi. Ternyata tidak.
Justru Ramadhan menjadi panggung baru. Lokasinya lebih jauh. Ekspektasinya sederhana. Tidak banyak target yang dibesar-besarkan. Tapi antusiasme justru melampaui perkiraan.
Di situ saya mulai melihat sesuatu yang berbeda tahun ini.
Mereka yang datang bukan karena bayaran.
Sebagian sudah berumur. Tenaganya tidak lagi sekuat dulu. Secara teknis mungkin tidak secepat pekerja profesional. Kalau diukur dengan standar industri, mungkin banyak yang kurang.
Tapi rasa memiliki mereka jauh lebih kuat.
Tidak ada kontrak.
Tidak ada honor.
Tidak ada perhitungan jam lembur.
Hanya niat.
Dan saya diam-diam mengakui satu hal: kerja tanpa bayaran kadang justru lebih total dibanding kerja dengan bayaran.
Ada perdebatan kecil yang muncul. Ibu-ibu yang detail. Hal-hal remeh yang dipertanyakan. Hal-hal kecil yang diulang-ulang. Di mata sebagian orang, mungkin itu membebani.
Di mata saya, itu tanda kehidupan.
Komunitas yang hidup itu berisik.
Yang terlalu diam justru patut dicurigai.
Karena diam yang terlalu rapi sering kali berarti tidak ada yang benar-benar peduli.
Di tengah dinamika itu, ada kerja-kerja yang tidak terlihat. Mengatur posisi sebelum konflik muncul. Menjadi jembatan antara panitia dan donatur. Mengalirkan informasi agar tidak tersumbat. Menyelaraskan ritme sebelum nada menjadi sumbang.
Semua terlihat biasa.
Padahal kalau tidak ada, sistem bisa macet.
Tidak semua kerja harus heroik.
Ada kerja yang nilainya justru karena tidak terlihat.
Namun saya juga menyadari, tidak semua yang muncul dalam dinamika itu murni soal teknis. Ada sinisme kecil yang sesekali muncul. Ada kalimat yang membangunkan memori lama. Pengalaman masa muda yang pernah diremehkan. Pernah dianggap tidak cukup. Pernah dianggap tidak mampu.
Kadang armor itu masih aktif.
Ada dorongan untuk membuktikan.
Ada bisikan kecil untuk menunjukkan bahwa saya sudah berbeda.
Lalu saya berhenti.
Ternyata bukan mereka yang sedang saya lawan.
Tapi versi lama diri saya sendiri.
Dulu saya ingin membalas dengan pembuktian.
Sekarang saya lebih ingin membalas dengan kebaikan.
Dulu saya ingin menang.
Sekarang saya ingin menuntaskan.
Prestasi bukan lagi untuk membungkam orang lain.
Tapi untuk menenangkan diri sendiri.
Saya juga belajar satu hal lain di Ramadhan ini.
Banyak orang siap jadi pemimpin. Siap berdiri di depan. Siap memberi arahan. Siap berbicara. Tapi tidak semua siap menjadi pelaksana. Tidak semua siap datang lebih awal, pulang paling akhir, dan tetap tersenyum ketika namanya tidak disebut.
Padahal organisasi hidup bukan karena satu orang di atas. Ia hidup karena pelaksana-pelaksana setia di bawahnya.
Relawan adalah bentuk tertinggi dari itu.
Relawan sepanjang hayat bukan soal usia.
Bukan soal jabatan.
Bukan soal posisi.
Ia soal kesediaan hadir tanpa pamrih.
Dulu saya hanya ingin dipimpin dengan baik.
Sekarang saya belajar menjadi pemimpin yang dulu saya harapkan.
Meski tetap sadar, kepemimpinan itu bukan soal satu orang. Ia kolaboratif. Seperti peredaran darah dalam tubuh. Tidak ada organ yang berdiri sendiri. Semua saling mengisi, saling menjaga.
Mungkin pada akhirnya,
yang paling mulia bukan menjadi pemimpin.
Tapi menjadi relawan bagi nilai yang kita yakini,
sepanjang hayat.

Leave a Reply