Tidak Semua yang Sibuk Sedang Bertumbuh

Ada fase dalam hidup ketika hari terasa penuh, tetapi jiwa terasa kosong.
Bukan karena kurang aktivitas, justru karena terlalu banyak. Terlalu banyak agenda, terlalu banyak suara, terlalu banyak tuntutan yang tidak sempat ditanya kembali arahnya.


Di fase itu, kita bangun pagi dengan daftar panjang, tidur malam dengan tubuh lelah, tetapi ada satu pertanyaan yang pelan-pelan mengendap: sebenarnya sedang menuju ke mana?
Anehnya, pertanyaan itu sering kita abaikan, karena kita merasa tidak punya waktu untuk berhenti.


Saya pernah berada di sana.
Bergerak cepat, terlihat sibuk, bahkan dianggap produktif. Hari-hari diisi dengan target, rapat, rencana, dan tanggung jawab. Secara kasat mata, semuanya berjalan. Tapi di dalam, ada kegelisahan yang tidak bisa dijelaskan dengan angka atau pencapaian.


Bukan karena saya tidak bersyukur.
Bukan karena hidup terasa berat.
Tapi karena ada jarak tipis antara apa yang dikerjakan dan apa yang sebenarnya ingin dijaga nilainya.


Di titik itu saya mulai sadar: sibuk itu mudah. Bertumbuh itu perkara lain.


Saya belajar pelan-pelan, justru dari tempat-tempat yang tidak banyak bicara. Dari proses yang tidak masuk sorotan. Dari rutinitas yang berulang dan sering dianggap sepele. Dari usaha kecil yang jalannya tidak melesat, tapi terus bergerak. Dari ruang-ruang sunyi yang tidak pernah ramai tepuk tangan.


Di sana saya menemukan satu hal sederhana: pertumbuhan jarang terasa spektakuler.
Ia tidak selalu datang dengan semangat menggebu atau perubahan besar. Ia sering hadir sebagai konsistensi kecil yang diulang, bahkan ketika tidak ada yang melihat.


Kita hidup di zaman yang sangat memuja kecepatan. Yang cepat dianggap unggul. Yang pelan sering dicurigai tertinggal. Padahal tidak semua yang cepat sedang menuju, dan tidak semua yang pelan sedang tersesat.


Ada orang yang melesat karena angin. Ada yang berjalan karena akar.


Kecepatan bisa memberi jarak.
Arah memberi kedalaman.


Saya mulai belajar membedakan mana capek karena berjuang, dan mana capek karena salah arah. Keduanya sama-sama melelahkan, tetapi hanya satu yang membawa ketenangan. Yang satu menguras, yang satu membangun.


Dulu, saya sering mengira rasa lelah adalah tanda kemajuan. Sekarang saya lebih hati-hati. Karena ternyata, lelah juga bisa datang dari terlalu banyak membuktikan diri, terlalu sering mengejar pengakuan, atau terlalu lama hidup di ritme yang bukan milik kita.


Di titik tertentu, hidup mengajarkan bahwa tidak semua peluang harus diambil, dan tidak semua kecepatan harus diikuti. Ada momen ketika berhenti justru menyelamatkan. Bukan berhenti dari berjalan, tapi berhenti dari kebisingan.


Saya belajar bahwa arah hidup tidak selalu ditentukan oleh seberapa cepat kita sampai, tetapi oleh seberapa jujur kita menjaga nilai di sepanjang jalan. Dan kejujuran itu sering diuji di hal-hal kecil: bagaimana kita memperlakukan orang, bagaimana kita menjaga amanah, bagaimana kita menyikapi proses yang lambat.


Pertumbuhan yang paling kokoh sering bekerja dalam diam.
Ia tidak memerlukan pembenaran.
Ia tidak sibuk membandingkan.


Ia hanya konsisten hadir, hari demi hari.


Ada fase ketika saya harus menerima bahwa tidak semua orang akan mengerti pilihan ritme hidup kita. Ada yang bertanya kenapa tidak dipercepat. Ada yang heran kenapa tidak sekalian lompat. Dan saya belajar berdamai dengan itu. Karena tidak semua perjalanan perlu dijelaskan, dan tidak semua keputusan perlu dipertontonkan.


Kita sering lupa bahwa hidup bukan lomba lari serentak. Setiap orang membawa beban yang berbeda, tujuan yang berbeda, dan waktu yang berbeda. Yang terlihat lambat di luar, bisa jadi sedang menguat di dalam.


Saya semakin percaya bahwa ketenangan bukan hadiah dari keberhasilan, tapi buah dari keselarasan. Ketika apa yang dikerjakan sejalan dengan apa yang diyakini, langkah menjadi lebih ringan, meski jarak belum pendek.


Bertumbuh itu tidak selalu terasa menyenangkan.
Kadang membosankan.
Kadang mengulang hal yang sama.
Kadang terasa tidak maju-maju.


Namun justru di situlah ia bekerja.


Di saat kita berhenti terlalu sering menoleh ke samping. Di saat kita tidak sibuk membandingkan langkah. Di saat kita cukup jujur bertanya pada diri sendiri: apakah ini masih arah yang ingin saya jaga?


Saya menulis ini bukan untuk menilai siapa pun. Saya menulis ini sebagai pengingat untuk diri sendiri. Bahwa hidup tidak harus selalu keras untuk menjadi berarti. Bahwa kita boleh pelan, selama tidak berhenti. Dan bahwa kesetiaan pada proses sering lebih berharga daripada tepuk tangan sesaat.


Semoga kita tidak hanya terlihat berjalan.
Tapi benar-benar sedang menuju.


Dan semoga, di tengah dunia yang semakin bising, kita masih berani menjaga ruang sunyi agar hati tetap jernih membaca arah.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *